Survei: Dukungan warga AS untuk perang Iran anjlok ke rekor terendah
Dukungan publik Amerika Serikat (AS) terhadap perang melawan Iran merosot ke level terendah sejak konflik dimulai pada Februari lalu. Berdasarkan survei terbaru Reuters/Ipsos yang dirilis pada Senin (24/8/2026), hanya 31 persen warga AS yang mendukung aksi militer tersebut. Angka ini terus menurun dibanding 37 persen pada Maret dan 34 persen pada awal bulan ini.
Penurunan dukungan dari pemilih Partai Republik menjadi pemicu utama tren kemerosotan tersebut. Di saat yang sama, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Donald Trump masih berada di titik terendah.
1. Popularitas Trump berada di titik terendah
Kepuasan publik terhadap kepemimpinan Trump kini hanya menyentuh 33 persen dalam dua survei beruntun. Angka tersebut menyamai rekor terendah sepanjang masa jabatan pertama dan keduanya di Gedung Putih.
Penurunan dukungan terhadap perang terlihat jelas di kalangan partai pendukungnya. Pemilih Republik yang menyetujui perang di Iran turun dari 77 persen pada Maret menjadi 69 persen.
Mayoritas responden sebesar 83 persen juga meyakini bahwa perang akan berlangsung lebih lama. Survei pada Juli mencatat bahwa 69 persen responden menilai pemerintah belum menjelaskan arah perang di Iran dengan baik. Namun, Trump dan stafnya sendiri kerap meremehkan hasil survei.
"Hal terpenting bagi rakyat Amerika adalah memiliki Panglima Tertinggi yang mengambil tindakan tegas untuk melenyapkan ancaman dan menjaga mereka tetap aman," kata Juru Bicara Gedung Putih Davis Ingle, dilansir USA TODAY.
2. Kenaikan harga bahan bakar bayangi pemilu sela
Dampak ekonomi akibat perang kini menjadi sumber kekhawatiran utama bagi masyarakat di AS. Blokade yang diterapkan Iran di Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan pasokan minyak mentah dunia.
Harga bensin tercatat naik lebih dari satu dolar AS (sekitar Rp17 ribu) per galon dibanding sebelum pecahnya perang. Kondisi ini bertolak belakang dengan janji kampanye Trump yang bertekad menurunkan angka inflasi dan menghindari keterlibatan militer di luar negeri.
Tekanan biaya hidup berisiko mengganggu performa politisi Partai Republik di pemilihan umum sela mendatang. Sebanyak 33 persen pemilih independen menyatakan akan mendukung kandidat Demokrat, sementara yang akan mendukung Republik hanya berjumlah 19 persen.
3. AS siapkan sanksi baru ke Iran akibat mandeknya negosiasi
Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah mengumumkan rencana penjatuhan sanksi bertajuk Operation Economic Outcast pada Senin. Kebijakan ini menargetkan lima sektor vital Iran, yaitu aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan jasa perkapalan.
Departemen Keuangan AS juga membidik puluhan entitas, kapal, dan individu asing yang membantu aktivitas perdagangan Teheran. Bessent menyatakan bahwa Washington berkomitmen meningkatkan isolasi perekonomian Iran.
"Tujuan kami adalah memutuskan setiap urat nadi ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran berdiri sendiri," ujar Bessent, dilansir Al Jazeera.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk kembali melancarkan serangan militer. Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan tidak gentar dan telah menyiapkan rencana jangka panjang guna menghadapi tekanan ekonomi AS.


0 Response to "Survei: Dukungan warga AS untuk perang Iran anjlok ke rekor terendah"
Posting Komentar