AS dan Israel, siapa yang mengendalikan siapa? Ini kata pakar Timur Tengah
Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menjadi sorotan di tengah konflik dengan Iran.
Kedekatan AS dan Israel, Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, bahkan memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya lebih dominan dalam menentukan kebijakan terkait Iran.
Pakar Timur Tengah, Dina Sulaeman mengatakan, terdapat perbedaan pandangan mengenai besarnya pengaruh Israel terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Menurut Dina, ada pandangan yang menyebut Israel memiliki pengaruh sangat kuat terhadap AS, sehingga AS mengambil kebijakan yang sebenarnya tidak selalu menguntungkan kepentingan nasionalnya sendiri.
"Ini ada perbedaan pendapat ya. Ada yang bilang Amerika Serikat itu disetir sama Israel," kata Dina dalam wawancara bersama Tribunnews dalam program On Focus, Senin (3/8/2026).
"Ini sebenarnya Amerika tuh tahu kok menyerang Iran itu salah, atau merugikan buat Amerika Serikat sendiri. Tapi Trump nurut sama Israel."
Dalam pandangan tersebut, AS dinilai mengetahui risiko besar dari serangan terhadap Iran, tetapi tetap mengambil langkah tersebut karena besarnya pengaruh kelompok pro-Israel.
Namun, Dina mengatakan terdapat perspektif lain yang justru melihat hubungan tersebut secara terbalik.
Menurutnya, Israel merupakan negara yang secara ekonomi dan militer masih sangat bergantung pada Amerika Serikat.
"Tapi ada juga yang yang berpendapat begini loh, Israel itu kan negara kecil. Dari sisi ekonomi juga sebenarnya kecil. Senjatanya Israel itu 80 persen-nya datang dari Amerika Serikat. Artinya dia (Israel) juga enggak punya senjata. Berarti Israel itu sebenarnya lemah," ujarnya.
Dari perspektif tersebut, Dina menilai Amerika Serikat sebenarnya memiliki kemampuan jauh lebih besar untuk mengendalikan Israel dibandingkan sebaliknya.
Menurutnya, keberadaan Israel di Timur Tengah juga berkaitan dengan kepentingan strategis AS di kawasan.
Ketidakstabilan kawasan, kata Dina, dapat memberikan keuntungan kepada sejumlah kelompok bisnis, khususnya perusahaan minyak dan industri persenjataan.
Ketika konflik menyebabkan harga minyak naik, masyarakat umum dapat terdampak melalui kenaikan harga energi.
Namun, di sisi lain, perusahaan minyak dapat memperoleh keuntungan lebih besar.
Hal serupa menurut Dina terjadi pada perusahaan senjata yang memperoleh keuntungan ketika permintaan persenjataan meningkat akibat konflik.
"Sehingga kalau ini (soal) siapa yang mengendalikan siapa, saya pikir Amerika yang sebenarnya mampu mengendalikan Israel," katanya.
Namun, menurut Dina, persoalannya bukan semata-mata kemampuan Amerika Serikat dalam memengaruhi Israel.
Ia menilai terdapat kelompok-kelompok di dalam AS yang turut memengaruhi keputusan para politisi.
Dina menyebut perusahaan senjata, perusahaan minyak, serta para donor kaya yang memiliki pandangan pro-Israel sebagai beberapa pihak yang mempunyai kepentingan terhadap kebijakan Washington.
Menurutnya, sistem politik Amerika Serikat memungkinkan para donor memberikan dukungan dana kepada kandidat politik secara terbuka.
Ia mencontohkan dukungan miliarder Miriam Adelson kepada Donald Trump dalam pemilu AS.
Kondisi tersebut membuat Trump menghadapi tekanan dari berbagai arah.
Di satu sisi terdapat kelompok yang memperoleh keuntungan atau berkepentingan terhadap berlanjutnya konflik.
Di sisi lain, terdapat masyarakat Amerika Serikat yang tidak menginginkan negaranya terus terlibat perang.
Dina menilai penolakan terhadap kebijakan pro-Israel juga mulai terlihat di tengah masyarakat AS.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah bantuan AS kepada Israel ketika warga AS sendiri menghadapi tingginya biaya kesehatan dan pendidikan.
Ia menyinggung pemungutan suara di parlemen AS mengenai kelanjutan bantuan kepada Israel.
Meski kelompok yang mendukung bantuan masih lebih besar, Dina melihat jumlah anggota parlemen yang menolak kebijakan tersebut mulai bertambah.
Menurutnya, kondisi itu menunjukkan adanya perubahan sentimen terhadap Israel di Amerika Serikat.
Jika tren tersebut berlanjut, bukan tidak mungkin kebijakan luar negeri AS terhadap Israel juga berubah.
"Semakin banyak anggota parlemen Amerika Serikat yang berani untuk melakukan perlawanan demi kepentingan nasionalnya, sangat mungkin kebijakan luar negeri Amerika Serikat berubah dan berhenti untuk mendukung Israel," ujarnya.
Trump Dipengaruhi Witkoff dan Jushner
Dina juga menyoroti perdebatan di lingkaran pemerintahan AS sebelum keputusan menyerang Iran.
Menurutnya, badan intelijen AS sebelumnya telah memperingatkan mengenai risiko serangan, terutama karena Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu Selat Hormuz yang sangat penting bagi perdagangan energi global.
Namun, Trump kemudian diyakinkan oleh sejumlah orang di lingkarannya bahwa Iran dapat ditundukkan dalam waktu singkat, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner.
"Menurut medianya Amerika Serikat sendiri itu yang ngomong, yang benar-benar 'udahlah serang aja serang aja nih Iran sebentar lagi kalah kok' gitu. 'Hanya diserang sebentar pasti kalah', itu adalah (Steve) Witkoff. Steve Witkoff itu bukan ahli geopolitik, dia pengusaha real estate. Dia teman baiknya Trump tapi dia sangat pro-Zionis gitu."
"Sama Kushner. Kushner ini mantunya, sama dia juga pro-Zionis juga memang Yahudi Zionis gitu ya dua-duanya."
"Nah, Trump-nya dibujuk dan akhirnya percaya dengan informasi itu."
Perhitungan tersebut, menurut Dina, ternyata tidak berjalan sesuai rencana karena Iran tetap mampu melakukan konsolidasi dan melancarkan serangan balasan.


0 Response to "AS dan Israel, siapa yang mengendalikan siapa? Ini kata pakar Timur Tengah"
Posting Komentar